Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Menggunakan Hydrometer : Fungsi dan Keselamatan Kerja

autominilab | Cara menggunakan hydrometer mengukur elektrolit baterai wajib dikuasai oleh seorang mekanik bengkel. Dengan metode dan langkah yang sesuai, ukuran yang akurat akan diperoleh. Data ini akan valid dan bisa menjadi dasar menentukan kondisi sebuah baterai.

Nah, pembahasan kita kali ini cara menggunakan hydrometer yang merupakan sebuah alat special service tools. Kamu tau, kan alat hidrometer? Alat yang diperlukan ketika merawat baterai mobil. Lalu mampu memberikan nilai yang bisa kita konversikan menjadi kondisi dari baterai, baik itu tegangan, kemampuan start, dan lamanya pengisian yang kita butuhkan.

Fungsi Hidrometer dan bagian-bagiannya

Secara umum fungsi hidrometer adalah mengukur berat jenis cairan. Cara menggunakannya pun sangat sama persis antara hydrometer jenis yang satu dengan yang lainnya. Dimana angka yang ditunjukan dari alat memiliki satuan gr/ml. Berikut fungsi hidrometer secara spesifik, adalah:
  • rasio densitas cairan
  • kepadatan relatif air
  • Berat jenis
Sebuah hidrometer terdiri dari beberapa bagian yang membentuk sebuah produk yang bisa bekerja dengan baik. Kontruksi dasar dari alat ini dapat dilihat pada gambar paling atas artikel ini. Adapun bagian-bagian dari hidrometer dan fungsinya, antara lain:
  • Suction Bulb/Pipet fungsinya menghisap cairan elektrolite baterai
  • Float/Pelampung fungsinya penunjuk angka hasil pengukuran berat jenis cairan elektrolite baterai
  • Pickup Tube fungsinya saluran/lubang masuknya cairan elektrolite untuk kemudian masuk ke outer tube
  • Outer Tube fungsinya menampung cairan elektrolite setelah cairan terhisap melalui pickup tube
Bagi kamu yang belajar dibangku SMK materi pelajaran mengecek secara berkala berat jenis dari baterai ini agar fungsi baterai tetap optimal untuk digunakan pada kendaraan sehari hari ada pada pelajaran teknologi dasar otomotif (TDO).

Beberapa cara mengetahui Berat Jenis Cairan

Berat jenis didefinisikan sebagai massa suatu bahan per satuan volume bahan tersebut. Bentuk persamaannya adalah :
Berat Jenis =   m / v
atau ρ = m / v
Dimana satuan dari berat jenis adalah:
  • kg/dm3
  • gr/cm3
  • gr/ml.
Berat jenis memiliki nilai konstan pada suatu temperatur tertentu serta tidak tergantung pada bahan cuplikan atau sampel. Terdapat beberapa alat yang bisa digunakan untuk menentukan berat jenis yaitu hidrometer/aerometer, neraca mohr whestpal, dan piknometer.

Menggunakan Aerometer/Hydrometer

Misalnya jika ingin menentukan berat jenis zat cair dengan aerometer harus menggunakan prinsip hukum Archimedes : “Setiap benda yang dicelukan ke dalam suatu cairan akan mengalami gaya angkat yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan”.


Aerometer/hidrometer berbentuk sebuah silinder yang berlubang, agar aerometer dapat tercelup dengan posisi yang tepat (skala tercelup dalam cairan), maka hidrometer diisikan dengan butir-butir Pb. Skala yang terdapat pada aerometer menunjukan berat jenis cairan. Saat semakin kecil berat jenis cairan, hidrometer akan tercelup semakin dalam. Sebaliknya, semkin besar berat jenis cairan, hidrometer akan tercelup sedikit. Oleh karena itu skala aerometer menunjukan angka yang semakin besar dari atas ke bawah.

Menggunakan Piknometer

Prinsip metode ini berdasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Menurut peraturan apotek, harus digunakan piknometer yang sudah ditera, dengan isi ruang dalam ml dan suhu tetentu (20 derajat C). Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Optimun ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet [2].

Menggunakan Neraca Mohr Westphal

Neraca ini digunakan untuk mengukur berat jenis zat cair. Terdiri atas tuas dengan 10 buah lekuk untuk menggantungkan anting, pada ujung lekuk yang ke 10 tergantung sebuah benda celup C yang dibuat dari gelas (kaca) pejal (tidak berongga), ada yang dalam benda celup dilengkapi dengan sebuah thermometer kecil untuk mengetahui suhu cairan yang diukur massa jenisnya, neraca seimbang jika ujum jarum D tepat pada jarum T [1].

Menggunakan Densimeter

Alat ukur berat jenis ini merupakan alat untuk mengukur massa jenis (density) zat cair secara langsung. Angka-angka yang tertera pada tangkai berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang permukaannya tepat pada angka yang tertera [1].

Bagian-bagian hidrometer Aki

Cara Menggunakan Hidrometer : Fungsi dan Keselamatan Kerja
Selain hidrometer, apalagi istilah alat yang bisa mengukur berat jenis zat cair? Baca artikel berikut ini!


Macam-macam Hydrometer
  1. Hidrometer Elektrolit Baterai (1100 - 1300
  2. Hidrometer BBM Solar (0.800 - 0.900)
  3. Hidrometer Bensin dan Alkohol (0.700 - 0.800)
  4. Hydrometer Avtur (0.750 - 0.850)
  5. Hidrometer Salinitas (Kadar Garam air)
Memahami bagian-bagian Hidrometer/Hydrometer
  • Rubber Bulb
  • Tabung Kaca
  • Papan Skala
    • Merah
    • Putih
    • Hijau
  • Pelampung
  • Pick up Tube

Keselamatan Kerja Menggunakan Hydrometer

Ketika bekerja dengan hidrometer pasti berkaitan dengan cairan elektrolit bisa terpercik kemana-mana. Alasan ini yang menjadikan kita untuk memberi perhatian atau keselamatan kerja menggunakan hidrometer. Cairan elektrolit yang mengandung zat asam zulfat berbahaya jika terkena kulit.

Cairan baterai yang terdiri dari 35% air suling dan 65% asam sulfat sangat melukai mata apabila terkena. Gunakan alat pelindung diri (APD) agar tidak terjadi bahaya kulit atau mata terbakar akibat elektrolit baterai.

Adapun keselamatan kerja ketika menggunakan hidrometer, sebagai berikut:
  • Menggunakan kaca mata bening
  • Sarung tangan karet
  • Stand by kan majun
  • Kuas
  • Menggunakan hidrometer sesuai fungsi
Ada beberapa hal yang penting diperhatikan dalam menggunakan Hidrometer aki, antara lain
  1. Posisikan hidrometer secara tegak lurus agar mendapatkan hasil pengukuran yang akurat.
  2. Ketika melakukan pengukuran jangan mengangkat hidrometer keluar dari kotak baterai. Cairan elektrolit dapat bereaksi secara kimia dengan logam sehingga dapat merusak komponen logam.
  3. Ketika melakukan pengukuran untuk mendapatkan hasil yang akurat, posisi dari pengamat harus sejajar dengan measuring point pada hidrometer.

Cara Menggunakan Hidrometer Mengukur Elektrolit Baterai

Cara Menggunakan Hidrometer : Fungsi dan Keselamatan Kerja
Mengukur Berat jenis air baterai
Cara menggunakan hydrometer secara prinsip tidak memerlukan trik khusus. Anda hanya perlu menekan bulb dan cairan dengan sendirinya akan terhisap. Namun. kebanyakan orang belum tau mengenai SOP penggunaanya dan cara membaca yang benar. Hal ini perlu, karena cara penggunaan yang tidak tepat dapat membuat pembacaan hasil pengukuran menjadi tidak akurat. Cara membaca hasil pengukuran yang salah ini tentunya akan merugikan pemilik mobil. Untuk menggunakan hidrometer anda dapat mengikuti panduan di bawah ini.
  1. Mempersiapkan baterai. Pada baterai terdapat tutup yang harus dilepas sebelum mengukur elektrolitnya, ada sebanyak 6 buah.
  2. Persiapkan alat. Persiapkan hidrometer (pastikan dalam kondisi bersih dan skala pengukuran masih terlihat) dan aki yang berat jenisnya akan diukur (menggunakan aki basah).
  3. Kalibrasi Hidrometer. Pastikan hidrometer berfungsi dengan baik, dengan mengecek terlebih dahulu berat jenis air. Hasil pengukuran hidrometer harus menunjukkan 1kg/m3.
  4. Catat Suhu Elektrolit. Dengan melakukan pengukuran suhu, kita bisa pastikan ke akuratan hasil pembacaan alat ukur.
  5. Mulai Mengukur. Menggunakan hidrometer masukan bagian pickup tube hidrometer masuk ke baterai sampai saluran tertutup elektrolit.
    Catatan : dalam menggunakan hidrometer, posisi hidrometer harus tegak lurus untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat
  6. Tekan Rubber Bulb hidrometer kemudian lepaskan secara perlahan. Dalam kondisi ini elektrolit baterai akan terhisap ke dalam tabung kaca dan pelampung yang ada di dalamnya terangkat.
  7. Tuliskan di kertas hasil pembacaan dari berat jenis setiap sel, untuk kemudian hasilnya dirata ratakan untuk menentukan kondisi isian baterai.
  8. Lakukan pengulangan pengukuran untuk memastikan hasil pengukuran dari elektrolit baterai sudah tepat.
  9. Tentukan Kondisi Baterai
  • 1,22 - 1,2 adalah berat jenis elektrolit yang diijinkan untuk aki
  • 1,26 - 1,28 adalah apabila air aki dalam keadaan penuh maka berat jenis air aki pada suhu 20 derahat celcius adalah 
  • < 1,22 maka aki perlu di charge sampai penuh dan jika batrai tidak penuh setelah dicharge segera ganti aki
  • > 1,29 maka perlu ditambahkan air distilasi atau air suling untuk menurunkan berat jenis.
Cara Mengukur Density (Berat Jenis) Solar menggunakan hidrometer solar, antara lain:
1. Siapkan Tabung Kaca
2. Siapkan Aerometer/Hidrometer
3. Ketahui Suhu Solar
4. Tidak Bisa kalibrasi dengan air
5. Lakukan Pengkuran
6. Membaca Hasil Ukur
7. Menentukan Kondisi Solar

Cara Membaca Hasil Pengukuran Berat Jenis (Pada Indikator Pelampung)

Ada tiga (3) Indikator Warna untuk Pembacaan berat jenis dimana pada masing-masing warna terdapat skala angka sebagai nilai dari berat jenis cairan yang diukur. Apapun tiga (3) warna indikator warna yang terdapat pada hidrometer:

Indikator Warna

Skala

Kondisi

Tindakan

Warna Merah (RECHARGE)

Skala 1100 - 1225

Warna merah menunjukan kondisi aki yang sudah drop/proses recharge kurang baik

Tindakan 1 : Lakukan recharge /cas aki

Tindakan 2 : Lakukan penambahan air aki (asam sulfat dan air suling)  untuk menambahkan berat jenisnya

 

Warna Putih (FAIR)

Skala 1220 -1250

Warna putih menunjukkan berat jenis aki masih relatif masih baik

 

Warna Hijau (GOOD)

Skala 1275 - 1300

Warna hijau menunjukkan kondisi berat jenis aki yang masih baik

Tidak perlu dilakukan tindakan

 


Nah, itu dia cara menggunakan hydrometer, fungsi dan keselamatan kerja yang perlu dikuasai. Keterampilan ini sangat wajib dipahami seorang mekanik apalagi pada departemen kelistrikan. Semangat dan selalu rajin mengupdate ketarampilan akan membawa kamu ke pintu kesuksesan.

Referensi:
  1. Sutoyo.,(1993),”Fisika”, Bina Usaha, Jakarta, 39,45.
  2. Roth, Herman J.,(1994),”Analisis Farmasi”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 466.
  3. Elysia Theotien Sigalingging